Radiologi Kedokteran Gigi adalah salah satu cabang ilmu Kedokteran Gigi (KG) yang sedang berkembang, di Indonesia maupun di dunia. Lingkupnya meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan radiasi di bidang KG, termasuk radiodiagnostik, proteksi radiasi dsb. Menarik karena banyak yang masih bisa dieksplorasi plus challengenya besar.
Sebelum memutuskan untuk melakukan pemeriksaan radiografik, dokter gigi mestinya mempertimbangkan dengan seksama keputusannya berdasarkan prinsip risk versus benefit dan as low as reasonably achievable and practicable. Sayangnya, saat ini banyak pesawat radiografi yang relatif canggih di pasaran, tetapi penggunaannya tidak disertai pemahaman yang lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan teknologi yang diterapkan.
Salah satu contohnya adalah penggunaan pesawat panoramik/orthopantomograph. Seringkali muncul ‘ide’ dari teman sejawat: kenapa nggak semua pasien kita ’screening’ dengan panoramik yah. Apalagi sejak ada peristiwa mengenaskan seperti bom Bali, jatuhnya pesawat di Jogja, dsb, yang menjadikan ‘rontgen’ panoramik menjadi salah satu ‘alat’ forensik yang penting. Dan menjadi alasan perlunya ’screening’ dengan panoramik
Kalau kita berpikir perlahan-lahan dan teliti, lalu kembali ke filosofi awal, bahwa setiap pemeriksaan radiografik harus punya justifikasi yang jelas, dengan mempertimbangkan faktor risk vs benefit, maka adalah wajar kalo kata-kata ’screening’ dengan panoramik kami pertanyakan. Jadi misalnya kalau kita berhadapan dengan pasien, dimulai dari kedatangan pasien, apakah langsung setelah pengisian rekam medik kita ‘giring’ pasien untuk panoramik? Mestinya tidak.
Menurut FDA guidelines on Radiographic Examination, ada tahapan yang harus dilakukan sebelumnya. Yang jelas review riwayat pasien dan pemeriksaan klinis mutlak dilakukan, walaupun ada rekomendasi khusus pada kasus tertentu. Setelah itu harus dipikirkan lagi jenis pemeriksaan yang memenuhi syarat as low as reasonably achievable and practicable. Artinya, bagaimana caranya pemeriksaan yang dilakukan itu dosis radiasinya minimal, hasil/informasi yang diperoleh optimal (sesuai kasus) dan sesuai dengan tujuan pemeriksaan.
Contoh kasus yang sering menyedihkan kami/saya adalah pembuatan radiograf panoramik untuk kasus-kasus yang sebetulnya memerlukan hasil yang lebih detil, misalnya perawatan saluran akar atau odontektomi atau evaluasi posisi benih gigi. Jadi kalau seorang pasien mengeluh gigi geraham bungsunya terasa sakit, lalu setelah review riwayat medik dan pada pemeriksaan klinik ditemukan kecurigaan adanya gigi impaksi pada satu sisi rahang, menurut saya radiograf dental adalah pilihan terbaik. Alasannya informasi yang diperoleh lebih detil, kita bisa lihat posisi gigi, kondisi jaringan periodonsiumnya, hubungannya terhadap gigi dan struktur anatomis lain, sehingga diharapkan hasil perawatannya maksimal. Apakah panoramik perlu, jawabannya bisa tidak bisa iya. Kalau yang dikeluhkan pasien hanya satu gigi tsb, dan pada pemeriksaan klinis tidak ditemukan kecurigaan adanya gigi impaksi pada regio yang lain, kenapa harus panoramik? Lain halnya kalau ternyata pada pemeriksaan klinik kita mencurigai gigi kontra lateralnya juga impaksi, lalu ada kelainan di beberapa gigi yang lain, bisa jadi panoramik jadi pilihan terbaik untuk pasien tsb.
Contoh ekstrim yang lain adalah pada kasus, misalnya pada pasien yang dicurigai terdapat KSS di rongga mulutnya. Lalu setelah review medical history dan pemeriksaan klinis diputuskan untuk melakukan biopsi. Eh, dari biopsi ‘tidak terlihat tanda-tanda keganasan’. Nah, lalu bagaimana? Beberapa kali saya menemukan pasien kemudian diminta untuk melakukan foto thorax dan/atau bone scan. Bisa lihat maksud saya?
Seorang Professor di universitas di Eropa sana , yang menurut saya mumpuni untuk kondisi patologis rongga mulut, pernah mengingatkan saya: kalau kita ‘tidak bisa melihat apa-apa -dalam tanda kutip- apakah bijak kalau kita melakukan pemeriksaan yang sebetulnya tidak terlalu bermakna untuk pasien? Mungkin yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan ulang, jangan-jangan biopsinya kurang ‘pas’. Kalau toh bone scan, seberapa besar manfaatnya untuk pasien. Oiya, metastase sudah sampai tulang. And then so what? Ini contoh kasus yang mungkin sangat ekstrim dan bisa jadi kontroversial.
Jadi menurut para ahli Radiologi KG plus ahli Patologi Oral, kalau boleh saya simpulkan, pakailah alat-alat diagnostik itu dengan pertimbangan yang matang. Bekali diri dengan ilmunya, lalu pilihkan yang terbaik untuk pasien, dalam arti informasi diagnostik yang diperoleh harus optimal (beda kan sama maksimal?). Jangan lupa pakai hati dan nurani, karena kita dan pasien sama-sama manusia.
No offense, please. Just my own way to stay insane in a very chaotic world.
Ditulis oleh evybaskara
Ditulis oleh evybaskara